Sabtu, 08 Desember 2012

Potret Kehidupan Remaja

REMAJA merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang berjalan antara umur 12-21 tahun. Secara lebih luas lagi remaja merupakan masa tumbuh dewasa yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik. Remaja sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas karena tidak termasuk golongan anak tetapi tidak juga golongan dewasa atau tua. Seperti yang dikemukakan oleh Calon (Monks, dkk 1990) bahwa masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak.

Oleh sebab itu banyak karakter yang terdapat pada remaja, mulai karakter positif sam pai karakter negatif pun ada. Di era globalisasi ini, karakter positif yang terdapat pada remaja sekarang banyak, seperti semakin optimistis dan kreatif mereka dalam banyak hal, di antaranya teknologi, otomotif, seni, olahraga dan lain-lain. Hal itu disebabkan banyak fasilitas yang mendukung dan dengan mudah didapatkannya.

Sebut saja fasilitas seperti akses unternet dengan mudah ataupun sarana olahraga atau sarana kesenian yang banyak. Contoh kecil kekreatifan remaja Indonesia sekarang yang fenomenal adalah mobil Esemka dan robotPsikolog dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Jawa Tengah. Mobil Esemka yang dibuat oleh para siswa 23 SMK di Indonesia tersebut mampu menjadi kebanggaan bagi bangsa Indonesia dalam hal otomotif.

Contoh lain juga pada bidang olahraga seperti perjuangan Tim Sepakbola Indonesia U23 di ajang SEA Games XXVI 2011 lalu berhasil menumbuhkan pengaruh positif di kalangan remaja. Itu dibuktikan dengan banyaknya remaja dan anak-anak yang tertarik untuk menekuni berbagai kegiatan olahraga. Efek langsung muncul pada ketertarikan remaja untuk berprestasi pada olahraga adalah hilangnya kebiasaan merokok dan sifat malas pada remaja itu sendiri. Jangka panjangnya, generasi pemuda masa depan akan dipenuhi para remaja yang sehat dan sportif.

 Karakter positif

Selain karakter positif, karakter negatif yang terdapat pada remaja Indonesia saat inipun cukuplah banyak dan menjadi ancaman bagi generasi kedepan. Lemahnya iman dan minimnya pendidikan menjadi salah satu faktor besar yang menyebabkan remaja berprilaku negatif. Di antara karakter negatif yang dilakukan remaja atau pun kenakalan remaja adalah narkoba, tawuran antarkelompok, perkehalian, dan tindakan-tindakan kriminalitas lainnya. Kita kerap melihat sebagian para remaja melakukan hal bodoh tersebut.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa selama 2007 tercatat sekitar 3.100 orang pelaku remaja berusia 18 tahun atau kurang. Jumlah itu meningkat pada 2008 menjadi 3.300 pelaku dan menjadi 4.200 pelaku pada 2009. Hasil analisis data yang bersumber dari berkas laporan penelitian kemasyarakatan Bapas mengungkapkan bahwa 60,0% dari mereka adalah remaja putus sekolah; dan 67,5% masih berusia 16-17 tahun. Sebesar 81,5% mereka berasal dari keluarga yang kurang/tidak mampu secara ekonomi. Tindak pidana yang dilakukan remaja itu umumnya adalah pencurian (60,0%) dengan alasan faktor ekonomi sebesar 46,0% remaja (lihat: BPS, Profil Kriminalitas Remaja 2010).

Hal ini tentu kembali lagi ke orang tua mereka masing-masing, apakah ada mendidik anaknya ke jalan yang baik ataupun tidak, atau malah tidak memeduli anaknya sama sekali. Karena orang tua berperan penting dalam mendidik anak, maka pemahaman orang tua terhadap masalah pendidikan dan psikologi anak harus ditingkatkan. Namun sayang tidak sedikit para orang tua yang kurang memehami ilmu mendidi anak. Selama ini kebenyakan orang tua mendidik anak-anak secara instingtif dan sekadar menuruti saja. Cara ini sebenarnya sangat merugikan, baik bagi anak maupun orang tua itu sendiri. Perkembangan dinamika psikologis anak kurang dipahami dengan baik, sehingga sering terjadi pertengkaran antara anak dan orang tuanya.

Akibatnya anak tidak betah di rumah, dan tindakan kriminalitas, narkoba banyak dilakukan oleh anak-anak baru gede (ABG) dan remaja tanggung. Realitanya sekarang pun kita lihat para remaja lebih jarang tinggal di rumah dan mereka cenderung bermain di luar rumah, atau di tempat-tempat yang membuat mereka bebas dan nyaman.

Berdasarkan pantauan saya, tidak sedikit masyarakat dan orang tua yang memiliki anaknya bersifat baik ketika di rumah dan jauh berbeda ketika di luar rumah. Ada sebagian anak mungkin takut terhadap orang tuanya namun mereka juga menginginkan kebebasan di luar rumah. Sehingga mereka berprilaku baik ketika di rumah saja atau ketika bersama orang tua. Tetapi melakukan tindakan kejahatan ketika di luar rumah atau bersama teman-teman kelompoknya.

Banyak kita lihat ketika ada remaja yang melakukan kejahatan dan dipulangkan ke orang tuanya, namun orang tuanya histeris karena tidak percaya anaknya yang melakukan hal itu. Hal ini terjadi mungkin karena anaknya memerlukan kebebasan, namun salah menyikapi kebebasan itu sehingga terjadilah berbagai tindakan kejahatan.

 Remaja dan syariat Islam

Cukup bagus jika Aceh menerapkan syariat Islam. Tetapi tidak akan berjalan penuh program tersebut itu apabila masih ada remaja di Aceh yang berprilaku menyimpang dengan syariat Islam. Realita yang kita lihat sekarang banyak remaja yang berkarakter negatif, seperti pergaulan bebas, balap liar, dan lain lain. Sehingga banyak kita baca di surat kabar remaja melakukan tindakan kejahatan. Ketika musim nonton bola, seperti Piala Dunia, Piala Eropa, atau Liga-liga lainnya, sebagian remaja lebih memilih untuk bersantai di warung-warung dan mengabaikan waktu shalat.

Pemerintah harus bertanggung jawab atas semua tingkah dan prilaku para remaja Aceh atau remaja yang menetap di Aceh. Malu rasanya, Aceh yang dikenal Serambi Mekkah dan menetapkan syariat Islam, namun prilaku pemuda atau remajanya masih menyimpang dari ajaran Islam. Pemerintah Aceh yang baru (Zikir) seharusnya menjadi solusi bagi kejahatan moral remaja saat ini. Mereka harus bisa merancang program-program yang menegakkan syariat Islam. Sehingga tidak ada lagi remaja yang berprilaku negatif.

Dan satu masukan dari saya kepada pemerintah Zikir, untuk mengadakan program beut kitab kuneng (mengaji kitab kuning) bagi seluruh remaja Aceh. Walaupun mereka tidak belajar tasrif ataupun tatacara baca kitab kuning, paling tidak mereka mengerti dan mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Hal ini demi kenyamanan kita semua dan terwujudnya syariat Islam, sehingga tidak ada lagi remaja yang berprilaku negatif.

Nasrul Hadi, Mahasiswa Jurusan Manjemen Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh. Email: nasrulhady@gmail.com

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites